Beranda > Artikel > Kekuatan Ukhuwah

Kekuatan Ukhuwah

Ukhuwah (persaudaraan) adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya pada setiap diri. Ia muncul secara naluriyah, setiap insan secara alami memerlukannya. Dalam sebuah keluarga, ia muncul atas ikatan darah. Di sebuah kelompok/organisasi ia hadir atas ikatan visi dan misi. Dalam Negara ia ada sebagai pengikat emosional nasionalisme bangsanya. Ia hadir dengan berbagai bentuk, menawarkan kebersamaan, cinta kasih dan kebahagiaan.

Bagi setiap muslim, sumber ukhuwah bukanlah kelompok atau etnis, Negara atau daerah georafis, akan tetapi batas saudara adalah wilayah akidah. Mereka bersaudara bukan lantaran satu bangsa atau satu tanah air, dan andai bermusuhan pun juga bukan karena perbedaan geografis. Mereka bersaudara karena Allah dan bermusuhan karena Allah.

Islam bukan etnis atau Negara tertentu, hadirnya bukan untuk memisah-misahkan manusia dalam kelompok-kelompok. Hadirnya adalah rahmat bagi semesta alam. Mempersatukan ia yang beriman kepada Allah.

Persamaan akidah akan membawa kepada persamaan pandangan dan orientasi perjuangan. Menjalin hati-hati, sekaligus membuat distansi dengan mereka yang berlainan akidah. Kekuatannya mampu menyatukan jiwa-jiwa yang terhimpun olehnya, sekaligus menggetarkan jiwa-jiwa mereka yang memusuhinya.

Kekuatan ukhuwah yang dibagung atas dasar akidah inilah yang kemudian melahirkan catatan-catatan  besar dalam sejarah islam. Kita bisa melihat bagaimana dua kaum dipersatukan, Muhajirin dan Anshar. Gambaran persaudaraan yang tak cukup tergambar dalam rangkaian kata yang mengisahkannya.

Tengoklah bagaimana Sa’ad bin Rabi’, seorang Anshar yang berkata kepada saudaranya Muhajirin, Abdurrahman bin Auf. “Hai saudaraku, aku adalah orang terkaya di Madinah, karena itu ambillah separo hartaku untukmu. Dan aku juga punya dua istri, pilihlah salah seorang di antaranya yang paling engkau senangi. Maka aku kawinkan ia denganmu setelah aku menceraikannya”. Saudaranya, Abdurrahman bin Auf pun menjawab, “Semoga Allah memberikan bagimu berkat pada hartamu dan istrimu”.

Tak ada kata yang bisa menjelaskan apa yang dipikirkan oleh Sa’ad ketika itu selain dari “Kekuatan Ukhuwan”. Ukhuwah yang terbangun atas dasar kecintaan terhadap Allah dan Rasulnya. Tak tebayangkan juga bagaimana semangat kaum Anshar yang bersedia disetiap panen menyisihkan sebagian hasilnya untuk saudaranya, Muhajirin yang tak pandai bercocok tanam.

Lantas kekuatan apa yang mendorong mereka tuk memilih mendahulukan saudaranya merasakan nikmatnya seteters air ketika dahaga dalam perang. Apa yang membuat mereka lebih mencintai saudaranya ketimbang dirinya, bahkan nyawa rela dikorbankannya? Sekali lagi, inilah kekuatan ukhuwah.

Mereka tiada pernah merasa rugi, bahkan amat bersyukur karena bisa melakukan suatu amal yang diridhao Allah, yang bisa mengantarkan mereka pada balasan yang baik di dunia apalagi di akhirat.

Saudaraku… sejarah telah mencatat bahwa dengan ukhuwah mereka memiliki kekuatan yang besar. Dengan kekuatan itu mereka pernah berjaya di dua pertiga bumi ini. Sejarah mengatakan itu nyata adanya.

Mari kita pupuk persaudaraan kita dengan ketakwaan, kita siram dengan air keimanan kepada Allah dan Rasulnya. Kita bangun jalinan yang dikuatkan oleh jalinan hati-hati yang telah beriman kepada Allah.  Hingga tak ada lagi sekat kecuali sekat akidah. Hingga Islam kembali jaya di bumi ini. Hingga tak ada lagi muslim yang terjajah di negerinya sendiri.

Freedom For Palestine…!

sumber: http://wahyupermadi.web.id

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.